Tampilkan postingan dengan label FAUNA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FAUNA. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 16, 2009

PUKAU WARNA CAPUNG

MEMANG sudah merupakan anugerah Tuhan, capung adalah salah satu bangsa serangga yang memiliki keelokan warna-warni yang beragam dan memukau, selain kupu-kupu dan kepik. Keragaman warna ini bukan hanya pada capung besar, tetapi juga pada capung jarum. Dan kita berharap, mudah-mudahan keindahan warna-warni yang melengkapi khazanah alam flauna nusantara ini tidak menimbulkan bencana bagi kelestarian hidup capung itu sendiri, seperti halnya yang dialami oleh berbagai jenis kupu-kupu yang saat ini menghadapi ancaman eksploatasi yang serius.
Berikut ini ditampilkan foto-foto capung yang diambil dari pekarangan di samping rumah, seperti ini:

Foto-foto: Deidra Anaye F. - aisfamilyCONSERVE.org

Selasa, Maret 17, 2009

BUKAN KAWIN KONTRAK

BAGAIMANA mahluk hidup mengembangbiakkan dirinya, adalah hal yang umum dibicarakan, tetapi sampai hari ini masih sebagian besar merupakan misteri. Model yang dikenali ialah mereka melakukan perkawinan, yaitu hubungan reproduktif antara jantan dan betina, baik pada tumbuhan maupun hewan. Alat reproduksi pada setiap mahluk berbeda, meskipun proses pembuahan berjalan menurut prinsip-prinsip yang sama pada setiap mahluk. Di sini, sel sperma jantan bertemu dengan sel ovum pada betina, selanjutnya terbentuk bakal anak atau bakal buah.


Pada tumbuhan, proses perkawinan atau pembuahan biasanya tidak teramati secara jelas, karena umumnya yang dapat dilihat adalah hasil berupa telah terjadinya pembuahan, kecuali jika prose situ sendiri bersifat artifisial, dalam arti ada campur tangan manusia, seperti penyerbukan atau kawin-silang. Tetapi pada hewan, proses itu dapat diamati secara langsung, semacam proses mating, yang memperlihatkan gerakan dan reaksi-reaksi tertentu pada individu yang sedang kawin.


Beberapa species hewan juga agak sukar diamati, karena waktu atau tempat berlangsungnya proses kawin itu tidak umum, misalnya di tengah malam, di dalam lubang-lubang, atau berlangsungnya sangat cepat. Mungkin kelompok yang paling mudah diamati adalah serangga (insects dan arachnids), karena selain ada di mana-mana, juga sebagian besar lebih terbuka dan dapat berlangsung sepanjang waktu, bergantung jenisnya.


Kawin adalah proses biologis yang mutlak bagi setiap mahluk hidup, untuk dapat mempertahankan kelanjutan hidup jenisnya. Sebagian mahluk hidup memiliki intensitas kawin yang tinggi, sebagian lagi intensitasnya jarang atau rendah. Jenis-jenis yang tinggi intensitas kawinnya, secara biologis dan ekologis adalah jenis-jenis yang mendapatkan tekanan tinggi, misalnya karena predasi, sehingga populasinya mudah terancam habis atau punah. Untuk tetap mempertahankan keberadaan jenisnya, terhindar dari kepunahan, mereka harus melakukan aktivitas reproduksi yang tinggi, dalam arti aktivitas kawin yang tinggi atau turunan (anak-anak atau buahnya) yang dihasilkan dalam jumlah besar. Beberapa jenis serangga, yang selalu merasa terancam oleh predator, yang menjadi sumber makanan dalam rantai makanan, akan beradaptasi untuk menjadi jenis yang memiliki kemampuan reproduksi tinggi.


Ketersediaan sumber makanan juga sangat berpengaruh pada pola reproduksi. Jenis-jenis hewan misalnya memiliki naluri untuk mengatur batas populasi jenisnya agar seimbang dengan batas daya dukung relung habitat yang mereka huni. Populasi jenis yang terlalu besar, yang tidak diimbangi dengan ketersediaan ruang dan sumber makanan yang cukup, akan mengarahkan jenis tersebut ke kemerosotan jumlah atau kepunahan. Tetapi ledakan sebuah populasi, tidak semata-mata disebabkan oleh tingginya reproduksi, melainkan dapat juga disebabkan oleh rendahnya komponen pengontrol seperti pemangsa, yang biasanya terjadi karena kerusakan keseimbangan ekologis.


Jadi, perkawinan pada setiap mahluk hidup, merupakan aktivitas biologis yang mutlak, dan mereka juga pada umumnya memiliki kemampuan untuk mengatur proses dan hasil dari perkawinan itu. Tidak seperti manusia, meskipun memiliki pengetahuan tentang daya dukung lingkungan, namun ternyata ber-KB juga gagal di mana-mana. Dan pada hewan atau tumbuhan, tidak dikenal adanya “kawin kotrak”. (ais)

Minggu, Maret 15, 2009

CAPUNG MONSTER

SEMUA orang pasti tahu dan kenal serangga yang bernama capung, yang oleh orang lain disebut sebagai “naga terbang” (dragonfly). Berjalanlah ke tepi hutan, padang rumput, tepi rawa, tepi jalan, hutan sekunder, bahkan pekarangan rumah, atau di mana saja, hampir selalu ditemukan adanya capung. Tetapi dari segi habitat, umumnya pada tempat-tempat yang tidak jauh dari genangan air, karena di sanalah mereka melatakkan telur-telurnya, yang akan menetas jadi nimfa (nympha) setelah 6 – 40 hari, bergantung jenisnya, dan seterusnya jadi capung dewasa. Seekor capung, dalam satu tahap masa peteluran, si betina dapat meletakkan 50 – 400 butir telur, bahkan ada species yang dapat bertelur sampai 1.000 butir.

Di dunia ini, jumlah jenis capung yang tergabung dalam Ordo Odonata, lumayan banyak, diperkirakan sekitar 5.000 species, dan di Indonesia sendiri lebih dari 900 species. Dari rekaman fosil capung yang ditemukan, dari zaman karbon, misalnya dari marga Meganeura, diketahui bahwa di bumi ini pernah hidup capung purba yang rentang-sayapnya mencapai 120 cm. Di Indonesia, capung dapat ditemukan dengan ukuran yang cukup besar, yaitu panjangnya 10-12 cm, dari species Anax maclachlani, sedangkan jenis yang kecil panjang badannya hanya sekitar 1,5 cm, yaitu species Agriocnemis minima, Agriocnemis pygmaea.

Kelompok capung, di Indonesia, hanya ada beberapa yang sangat umum dikenali karakternya melalui familinya, yaitu capung berperut gembung (famili Gomphidae), karena di ujung perutnya, ada bagian yang membengkak atau menggembung. Berikutnya, capung bermata besar (famili Aeshnidae), karena memang ukuran matanya yang besar dan mencolok. Kemudian capung luncur (famili Libellulidae), yang selalu bergerak dan menyambar-nyambar. Lalu capung jarum (Famili Coenagrionidae), karena memang perutnya panjang kurus seperti jarum. Keempat famili inilah yang paling sering terlihat secara keseharian, tapi selain itu, di Indonesia masih terdapat capung-capung lain dari famili-famili Calopterygidae, Petaluridae, Macromiidae, Corduliidae, dan sebagainya.

Dalam pengelompokan capung, salah satu ciri capung yang dikenal secara umum ialah memiliki sayap dua pasang, atau empat lembar, yang bentuknya memanjang, tembus pandang dan menampakkan jala-jala urat yang banyak, yang sepintas seperti jaring (membranaceus). Mata majemuknya, yang besar, dapat dikatakan menutupi seluruh kepala. Antenanya sangat kecil, tetapi perutnya (abdomen) panjang dan tipis. Dari tipe mulutnya yang tampak, dapat diketahui bahwa capung memiliki model gigi pemotong dan pencabik.

Apabila diperhatikan tampilan capung, yang sering kita temukan, terdapat dua bentuk yang berbeda, yaitu capung besar dan capung jarum. Capung besar ditandai dengan ukuran yang memang lebih besar, tetapi sayap depan dengan sayap belakangnya tidak sama besar, dan pada saat hinggap di suatu tempat, keadaan sayap tetap terentang ke samping dalam posisi tegak lurus dengan badannya. Pada nimfa, yang hidup di dalam air, insangnya terdapat di dalam rongga rektum. Ini merupakan ciri umum untuk semua capung dalam Subordo Anisopetara.

Berbeda dengan capung besar, bentuk dan ukuran sayap pada capung jarum, ditandai oleh sayap depan dan sayap belakang yang sama besar, dan ketika hinggap, sayap-sayapnya tidak terentang, tetapi terlipat ke belakang sejajar perutnya. Pada nimfa, insangnya bukan di dalam rongga rektum, melainkan di ujung abdomen, dalam bentuk tiga lembar organ pernafasan, dengan letak persis seperti bilah-kipas baling-baling kapal. Ini merupakan ciri umum dari Subordo Zygoptera.

Capung adalah monster, bukan hanya pada tampilannya yang keren dengan wajah terkesan menakutkan, melainkan juga sejak masih sebagai nimfa yang hidup di dalam air, mereka sudah ganas mengganyang serangga air, larva, dan anak ikan. Setelah dewasa pun, capung akan tetap memangsa sesama serangga, terutama nyamuk, ngegat, agas dan sebagainya. Sebagai serangga yang ditakdirkan menjadi karnivorous sejati, maka dia memiliki mata yang berukuran besar dengan kemampuan jangkauan pandang ke semua arah, karena kepalanya dapat memutar 360°.

Gerakan capung juga istimewa, dengan sayap yang kaku, tipis dan ringan, capung dapat melakukan gerakan akrobatik yang memukau, dapat langsung berbelok-arah pada posisi kurang dari 90°. Kaki dan cakarnya kuat, mampu memegang mangsanya dengan baik, yang disambar ketika sedang terbang, dan langsung membawa mangsa tersebut ke mulutnya. Capung dapat makan sambil terbang.

Mengamati capung merupakan kegiatan yang menarik, karena perilakunya yang aktif, dan terutama warna-warninya yang cukup bervariasi. Dari ratusan jenis capung yang ada di Indonesia, memang ada beberapa yang paling umum dijumpai, terutama capung yang menyenangi rerumputan dan bertengger di tanaman-tanaman hias kolam di samping rumah. Ada beberapa species yang kemunculannya di suatu tempat bersifat musiman, dengan jumlah ratusan dan bahkan ribuan, beterbangan dan berzig-zag di udara, sambil mencari mangsa.

Ketika kecil, jika seorang anak terlalu sering pipis, bahkan pun ketika dia telah berusia 6-7 tahun, masih pipis di tempat tidur, umumnya tradisi mengajarkan agar segera ditangkap seekor capung besar (dalam bahasa Bugis: jurujuru lambatong), dan capung tersebut diupayakan menggigit pusar si anak. Tapi terlepas dari soal kebiasaan pipis tersebut, perhatikan saja sang lambatong itu dengan seksama. Mereka adalah monster, yang agresif, ganas, tetapi menarik dan harus dilestarikan.(ais)

Selasa, Maret 10, 2009

PENGUASA BUMI

KALAU kita menyimak informasi bahwa serangga (insects dan arachnids) saat ini merupakan kelompok hewan yang terbanyak jenisnya di bumi, mencapai 950.000 species atau lebih, maka itu berarti serangga benar-benar adalah mahluk yang menguasai bumi ini. Serangga, seperti juga kelompok satwa lainnya, memiliki peran yang penting dan spesifik dalam sistem ekologi bumi. Kemampuan serangga luar biasa, terutama di dalam menghuni semua relung habitat, baik di daratan maupun di perairan. Bahkan serangga, mampu juga membangun habitat pada tubuh mahluk lain, yang sekaligus menjadi inang atau produsen.


Indonesia dengan posisi yang berada di daerah tropik, yang sebagian besar wilayahnya juga masih tertutup hutan, savanna, semak-belukar, danau, rawa dan air payau, merupakan gudang serangga. Belum terinventarisasi secara detil, tetapi diperkirakan jumlah species serangga di Indonesia sekitar 100 – 300 ribu species.


Peranan serangga bagi lingkungan sudah pasti, seperti sebuah mesin yang bergerak untuk mendorong berfungsinya alat lain secara maksimal. Jutaan lebah dan kerabatnya, akan bergerak dari pagi sampai sore untuk melakukan penyerbukan terhadap tumbuhan di hutan. Ribuan jenis lainnya memiliki peran menghancurkan sampah hutan menjadi humus, yang menyediakan unsur hara bagi tumbuhan. Buah busuk yang jatuh di lantai hutan, dikerumuni serangga, dan di sana ada satwa lain yang mengintai serangga: katak, kadal, dan lainnya, berpesta pora.


Serangga memiliki keistimewaan, karena sebagian besar mampu melakukan perpindahan tempat pada jarak-jarak tertentu. Selain itu, serangga juga memiliki karakteristik dengan siklus hidup yang singkat, dan ada di antaranya memiliki beberapa fase dalam tahapan perkembangannya: telur, ulat, kepompong dan serangga dewasa.


Tampilan morfologis serangga tidak kalah menarik dengan kelompok satwa lain, baik bentuk fisiologinya maupun warna-warninya. Memang, cukup banyak juga yang berpenampilan “mengerikan” seperti seekor monster mini, dan menimbulkan rasa ngeri atau jijik pada sebagian orang. Tetapi sebenarnya, tampilan seperti itu bukanlah buruk, melainkan unik. Beberapa jenis serangga juga memiliki organ perlindungan diri, dalam bentuk bisa. Lebah, labah-labah, kalajengking dan banyak jenis lainnya, dapat membuat seseorang keracunan kalau tersengat atau tergigit, dan bahkan ada yang bisanya dapat mematikan.


Serangga merupakan sumber makanan yang terpenting dan potensial bagi banyak jenis satwa lainnya, semisal kelompok mamalia seperti kelelawar, cerurut, dan lainnya; kelompok burung, seperti paruhkatak, cabak, dan lainnya; dari kelompok reptil seperti cecak, kadal, dan lainnya; dari kelompok amfibia seperti katak, bangkong, dan lainnya; dari kelompok ikan seperti arowana, ikan pemanah, kepala timah, dan lainnya – dan kelompok manusia, yang makan belalang, telur tawon, dan lainnya. Tentunya, serangga juga tidak sedikit yang memangsa sesama serangga.


Kontribusi ekonomis serangga terhadap manusia sebenarnya telah berlangsung sejak lama, seperti pemanfaatan lebah madu untuk mendapatkan nectar, yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, dan bahkan sekarang lebah madu ini telah dibudidayakan. Jengkerik, dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan burung; sedangkan kupu-kupu sutra (Bombix sp.) sudah lama menjadi komoditi, karena serat ulatnya yang bermanfaat sebagai bahan untuk kain sutra yang bermutu.


Akibat eksploatasi berbagai sumber daya alam, kerusakan habitat, dan sebagainya, saat ini beberapa jenis serangga telah mulai langka dan terancam punah. Beberapa jenis serangga, seperti kupu-kupu sangat intensif dieksploatasi, untuk dijual sebagai cinderamata, atau beberapa jenis kumbang yang unik, yang ditangkap dan dijadikan hiasan permata pada cincin atau kalung.


Beberapa jenis serangga memang memiliki potensi sebagai inang atau vektor penyakit, seperti nyamuk yang merupakan penyebab malaria dan DBD. Lalat dan kerabatnya, menjadi vektor penyakit kolera dan disentri,. Kutu, di kepala dan di badan, merupakan hamah tubuh yang cukup mengganggu.


Selain itu, beberapa jenis serangga juga potensial sebagai hama, terutama untuk pertanian. Wereng, belalang, kutu loncat, adalah jenis-jenis serangga yang popular sebagai hama. Kumbang merupakan penggerek daun yang efektif, pelubang kayu balok dan papan, serta kecoak yang selalu mengganggu di lemari makan.


Namun terlepas dari semua “kekurangan” serangga, mereka punya jauh lebih banyak kelebihan dan potensi untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu, dengan memahami serangga secara lebih universal, terutama perannya dalam sistem ekologi, maka serangga merupak aset yang harus dijaga kelestariannya. Sebagai sumberdaya plasmanutfah, serangga memiliki potensi untuk dikembangkan terus di dalam mendukung kepentingan hidup manusia. Selama sebuah sumber cadangan genetika masih kita miliki, maka akan selalu tersedia alternatif untuk kemanfaatannya di masa depan. Karena itulah, kita sudah selayaknya memberi tempat hidup yang patut bagi serangga, bukan memusuhinya, melainkan mengakrabi dan mengendalikannya. Serangga, adalah penguasa bumi. Karena tanpa serangga, kita tidak tahu akan jadi apa bumi ini. (ais)

Rabu, Maret 04, 2009

BURUNG INDONESIA (5)

PERHATIAN terhadap burung-burung di Indonesia, khususnya oleh masyarakat umum, sejauh ini belum memadai, terutama secara terorganisir. Kelompok-kelompok masyarakat yang menaruh perhatian terhadap kelestarian burung-burung di Indonesia, dalam kelompok bird watcher, baru berkembang di beberapa kota di Jawa dan Bali. Atau mungkin juga terdapat di daerah-daerah lain, tetapi belum eksis sepenuhnya seperti yang diharapkan. Sebagian kelompok pengamat burung yang ada saat ini barulah pada taraf hobi atau karena minat. Di beberapa negara, seperti Australia, kelompok bird watcher ini sudah memasuki taraf profesi.
Kelompok pencinta atau pemerhati, mempunyai peran penting dalam upaya pelestarian burung, terutama terkait dengan hasil-hasil pengamatan dan pencermatan yang meraka lakukan terhadap kehidupan burung. Pengamatan terhadap perilaku burung, bukan hanya sekadar keinginan untuk mengetahui jenis burung itu, dengan mencocokkannya pada buku panduan lapangan. Pengamatan yang baik seharusnya mencakup cukup banyak hal, antara lain jenis, relung (niche) yang ditempati, kelimpahan jumlah, jenis dan keragaman pakan, suara dan respons terhadap lingkungan, interaksinya dengan species lain (burung atau bukan burung), dan sebagainya. Oleh pengamat yang cermat, hal-hal seperti ini merupakan catatan penting, yang dapat membantu memberikan informasi berkenaan dengan keberadaan satu species burung tertentu. Informasi ini akan amat penting sebagai bahan masukan dalam mengambil suatu kebijakan, khususnya dalam upaya penyelamatan burung.
Mengamati burung merupakan kegiatan yang sangat menarik, tetapi butuh kesabaran dan keuletan jika diinginkan hasil yang memuaskan. Menjadi pengamat burung, untuk kepentingan kesenangan atau karena adanya keinginan untuk membantu pelestarian burung, dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, karena burung hampir dapat ditemukan di setiap saat dan di setiap tempat. Dengan perlengkapan yang tidak terlalu banyak (teropong, kamera, alat perekam suara, buku catatan dan kelengkapannya, tenda kamuflase, counter, serta buku panduan lapangan), seseorang sudah dapat melakukan pengamatan yang standar. Dasar terpenting untuk melakukan pengamatan burung, adalah adanya penguasaan terhadap taksonomi burung, paling tidak terkait dengan morfologi burung.
Sebagai syarat pertama, ialah seorang pengamat burung harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai morfologi burung, sehingga tahu bagian-bagian (penampakan) luar seekor burung, mampu membedakan antara leher dan tengkuk burung, antara perut dan dada, dan sebagainya. Hal ini perlu, karena dalam pengamatan, morfologi memegang penanan penting untuk menentukan suatu species. Tentunya juga harus tahu nama-nama warna secara benar.
Sebagai syarat kedua, seorang pengamat juga harus mamiliki pengetahuan untuk membuat gambar sketsa (cukup gambar kasar) burung, dengan mengikuti pola-pola fisiologis yang bersifat baku. Artinya, sketsa seekor burung kuntul akan sangat berbeda dengan sketsa burung elang, karena perbedaan bentuk paruh, kaki dan cakar, dan sebagainya. Dengan gambar sketsa yang benar, meskipun hanya dilihat sepintas, seseorang sudah akan dapat mengetahui ordo atau famili dari burung yang diinformasikan oleh sketsa bersangkutan.
Syarat ketiga, seorang pengamat juga perlu mengetahui dasar-dasar pengenalan terhadap tumbuh-tumbuhan dan tipe lokasi yang memiliki hubungan erat dengan burung yang diamati, sehingga tahu persis burung itu aktif di lokasi apa (tepi hutan, pekarangan, sawah, rawa, dan sebagainya) dan menetap atau besarang di tumbuhan apa, serta memakan apa (serangga, buah, biji, nectar dan sebagainya). Seorang pengamat harus tahu bahwa burung yang diamatinya sangat aktif di pohon beringin, dan bukan di pohon trembesi. Tahu persis bahwa burung itu bersarang di rumpun bambu, di alang-alang atau di pohon pisang. Ini penting karena setiap species burung secara umum memiliki karakteristik terkait dengan feeding habits, breeding dan spawning habits, tempat mencari makan, berkembangbiak dan tempat memelihara anak-anaknya.

Selanjutnya uraian species dari ordo Passeriformes, yang diwakili oleh famili-famili Acanthizidae, Acrocephalidae, Aegithalidae, Aegithinidae, Alaudidae, Artamidae, Campephagidae, Chaetorhynchidae, Chloropseidae, Cinclosomatidae, Climacteridae, Corvidae, Cracticidae, Dicaeidae, Dicruridae, Emberizidae, Eurylaimidae, Fringillidae, Grallinidae, Hirundinidae, Irenidae, Laniidae, Maluridae, Melanocharitiidae, Meliphagidae, Monarchidae, Motacillidae, Muscicapidae, Nectariniidae, Neosittidae, Oriolidae, Orthonychidae, Pachycephalidae, Paradiseidae, Paramythiidae, Paridae, Passeridae, Petroicidae, Pittidae, Ploceidae, Pomatostomidae, Ptilonorhynchidae, Pycnonotidae, Rhipiduridae, Sittidae, Sturnidae, Sylviidae, Timaliidae, Turdidae, Zosteropidae, dengan species masing-masing:

Famili ACANTHIZIDAE –
Acanthiza murina, Papuan thornbill
Crateroscelis murina, Rusty mouse-warbler
Crateroscelis nigrorufa, Bicolored mouse-warbler
Crateroscelis robusta, Mountanin mouse-warbler
Gerygone chloronotus, Green-backed gerygone
Gerygone chrysogaster, Yellow-bellied gerygone
Gerygone cinerea, Mountain gerygone
Gerygone dorsalis, Rufous-sided gerygone
Gerygone hypoxantha, Biak gerygone
Gerygone inornata, Plain gerygone
Gerygone levigaster, Mangrove gerygone
Gerygone magnirostris, Large-billed gerygone
Gerygone palpebrosa, Fairy gerygone
Gerygone ruficollis, Brown-breasted gerygone
Gerygone sulphurea, Golden-bellied gerygone
Sericornis arfakianus, Grey-green scrubwren
Sericornis beccarii, Beccari’s scrubwren
Sericornis nouhuysi, Large scrubwren
Sericornis papuensis, Papuan scrubwren
Sericornis perspicillatus, Buff-faced scrubwren
Sericornis rufescens, Vogelkop scrubwren
Sericornis spilodera, Pale-billed scrubwren
Sericornis virgatus, Perplexing scrubwren
Famili ACROCEPHALIDAE –
Abroscopus superciliaris, Yellow-bellied warbler
Acrocephalus aedon, Thick-billed warbler
Acrocephalus australis, Australian reed- warbler
Acrocephalus bistrigiceps, Black-browed reed- warbler
Acrocephalus orientalis, Oriental reed- warbler
Acrocephalus stentoreus, Clamorous reed- warbler
Bradypterus castaneus, Chestnut-backed bush-warbler
Bradypterus seebohmi, Russet bush-warbler
Buettikoferella bivittata, Buff-banded bushbird
Cettia carolinae, Tanimbar bush-warbler
Cettia vulcania, Sunda bush-warbler
Locustella amnicola, Sakhalin warbler
Locustella certhiola, Palla’s warbler
Locustella fasciolata, Gray’s warbler
Locustella lenceolata, Lanceolated warbler
Locustella ochotensis, Middendorff’s grasshopper- warbler
Megalurus albolimbatus, Fly River grassbird
Megalurus gramineus, Little grassbird
Megalurus palustris, Striated grassbird
Megalurus timorensis, Tawny grassbird
Ortothomus atrogularis, Dark-necked tailorbird
Ortothomus cuculatus, Mountai tailorbird
Ortothomus ruficeps, Ashy tailorbird
Ortothomus sepium, Olive-backed tailorbird
Ortothomus sericeus, Rufous-tailed tailorbird
Ortothomus sutorius, Common tailorbird
Phylloscopus borealis, Arctic warbler
Phylloscopus coronatus, Eastern crowned leaf-warbler
Phylloscopus inornatus, Yellow-browed warbler
Phylloscopus poliocephalus, Island leaf-warbler
Phylloscopus presbytes, Timor leaf-warbler
Phylloscopus sarasinorum, Sulawesi leaf-warbler
Phylloscopus trivirgatus, Mountain warbler
Seicercus castaniceps, Chestnut crowned warbler
Seicercus grammiceps, Sunda warbler
Seicercus montis, Yellow-breasted warbler
Tesia cyaniventer, Grey-bellied tesia
Tesia everetti, Russet-capped tesia
Tesia superciliaris, Javan tesia
Urosphena subulata, Timor subtail
Urosphena whiteheadi, Bornean subtail
Famili AEGITHALIDAE –
Psaltria exilis, Pygmy tit
Famili AEGITHINIDAE –
Aegithina tiphia, Common iora
Aegithina viridissima, Green iora
Famili ALAUDIDAE – branjangan, alippaja
Mirafra javanica, Australasian bushlark
Famili ARTAMIDAE –
Artamus cinereus, Black-faced woodswallow
Artamus leucorhynchus, White-breasted woodswallow
Artamus maximus, Great woodswallow
Artamus monachus, White-backed woodswallow
Famili CAMPEPHAGIDAE –
Campochaera sloetii, Golden cuckoo-shrike
Coracina abbotti, Pygmy cuckoo-shrike
Coracina atriceps, Moluccan cuckoo-shrike
Coracina bicolor, Pied cuckoo-shrike
Coracina boyeri, Boyer’s cuckoo-shrike
Coracina caeruleogrisea, Stout-billed cuckoo-shrike
Coracina ceramensis, Pale-grey cuckoo-shrike
Coracina dispar, Kai cuckoo-shrike
Coracina dohertyi, Sumba cuckoo-shrike
Coracina fimbriata, Lesser cuckoo-shrike
Coracina fortis, Buru cuckoo-shrike
Coracina incerta, Papuan cuckoo-shrike
Coracina javensis, Javan cuckoo-shrike
Coracina larvata, Sunda cuckoo-shrike
Coracina leucopygia, White-rumped cuckoo-shrike
Coracina lineata, Yellow-eyed cuckoo-shrike
Coracina longicauda, Hooded cuckoo-shrike
Coracina melas, New Guinea cuckoo-shrike
Coracina montana, Black-bellied cuckoo-shrike
Coracina morio, Sulawesi cuckoo-shrike
Coracina novaehollandiae, Black-faced cuckoo-shrike
Coracina papuensis, White-bellied cuckoo-shrike
Coracina parvula, Halmahera cuckoo-shrike
Coracina personata, Wallacean cuckoo-shrike
Coracina schistacea, Slaty cuckoo-shrike
Coracina schisticeps, Grey-headed cuckoo-shrike
Coracina striata, Bar-bellied cuckoo-shrike
Coracina sula, Sula cuckoo-shrike
Coracina temminckii, Cerulean cuckoo-shrike
Coracina tenuirostris, Cicadabird
Hemipus hirundinaceus, Black-winged flycatcher-shrike
Lalage atrovirens, Black-browed triller
Lalage aurea, Rufous-bellied triller
Lalage leucomela, Varied triller
Lalage leucopygialis, White-rumped triller
Lalage moesta, White-browed triller
Lalage nigra, Pied triller
Lalage seurii, White-shouldered triller
Pericrocotus cinnamomeus, Small minivet
Pericrocotus divaricatus, Ashy minivet
Pericrocotus flammeus, Scarlet minivet
Pericrocotus igneus, Fiery minivet
Pericrocotus lansbergei, Flores minivet
Pericrocotus miniatus, Sunda minivet
Pericrocotus solaris, Grey-chinned minivet
Famili CHAETORHYNCHIDAE –
Philentoma phyropterum, Rufous-winged philentoma
Philentoma velatum, Maroon-breasted philentoma
Tephrodornis gularis, Large woodshrike
Famili CHLOROPSEIDAE –
Chloropsis aurifrons, Golden-fronted leafbird
Chloropsis cochinchinensis, Blue-winged leafbird
Chloropsis cyanopogon, Lesser green leafbird
Chloropsis sonnerati, Greater green leafbird
Chloropsis venusta, Blue-masked leafbird
Famili CINCLOSOMATIDAE –
Androphobus viridis, Papuan whipbird
Cinclosoma ajax, Paited quail-thrush
Eupetes macrocercus, Malaysian rail-babbler
Ifrita kowaldi, Blue-capped ifrita
Ptilorrhoa caerulescens, Blue jewel-babbler
Ptilorrhoa castanonota, Chestnut-backed jewel-babbler
Ptilorrhoa leucosticta, Spotted jewel-babbler
Famili CLIMACTERIDAE –
Cormobates placens, Papuan treecreeper
Famili CORVIDAE –
Cissa chinensis, Green magpie
Cissa thalassina, Short-tailed magpie
Corvus enca, Slender-billed crow
Corvus florensis, Flores crow
Corvus fuscicavillus, Brown-headed crow
Corvus macrorhynchos, Large-billed crow
Corvus orru, Torresian crow
Corvus splendens, House crow
Corvus tristis, Grey crow
Corvus typicus, Piping crow
Corvus unicolor, Banggai crow
Corvus validus, Long-billed crow
Crypsirina temia, Racquet-tailed treepie
Dendrocitta cinerascens, Bornean treepie
Dendrocitta occipitalis, Sumatran treepie
Pityriasis gymnocephala, Bornean bristlehead
Platylophus galericulatus, Crested jay
Platysmurus leucopterus, Black magpie
Famili CRACTICIDAE –
Cracticus cassicus, Hooded butcherbird
Cracticus mentalis, Black-backed butcherbird
Cracticus quoyi, Black butcherbird
Gymnorhina tibicen, Australasian magpie
Peltops blainvillii, Lowland peltops
Peltops montanus, Mountain peltops
Famili DICAEIDAE –
Dicaeum agile, Thick-billed flowerpecker
Dicaeum annae, Golden-rumped flowerpecker
Dicaeum aureolimbatum, Yellow-sided flowerpecker
Dicaeum celebicum, Grey-sided flowerpecker
Dicaeum chrysorreum, Yellow-vented flowerpecker
Dicaeum concolor, Plain flowerpecker
Dicaeum cruentatum, Scarlet-backed flowerpecker
Dicaeum erythrothorax, Flame-breasted flowerpecker
Dicaeum everetti, Brown-backed flowerpecker
Dicaeum geelvinkianum, Red-capped flowerpecker
Dicaeum hirundinaceum, Mistletoebird
Dicaeum iginpectus, Fire-breasted flowerpecker
Dicaeum igniferum, Black-fronted flowerpecker
Dicaeum maugei, Red-chested flowerpecker
Dicaeum monticolum, Black-sided flowerpecker
Dicaeum nehrkorni, Crimson-crowned flowerpecker
Dicaeum pectorale, Olive-crowned flowerpecker
Dicaeum sanguinolentum, Blood-breasted flowerpecker
Dicaeum trigonostigma, Orange-bellied flowerpecker
Dicaeum trochileum, Scarlet-headed flowerpecker
Dicaeum vulneratum, Ashy flowerpecker
Prionochilus maculatus, Yellow-breasted flowerpecker
Prionochilus percussus, Crimson-breasted flowerpecker
Prionochilus thoracicus, Scarlet-breasted flowerpecker
Prionochilus xanthopygius, Yellow-rumped flowerpecker
Famili DICRURIDAE –
Chaetorhynchus papuensis, Papuan drongo
Dicrurus aeneus, Bonzed drongo
Dicrurus annectans, Crow-billed drongo
Dicrurus bracteatus, Spangled drongo
Dicrurus densus, Wallacean drongo
Dicrurus hottentottus, Hair-crested drongo
Dicrurus leucophaeus, Ashy drongo
Dicrurus macrocercus, Black drongo
Dicrurus montanus, Sulawesi drongo
Dicrurus paradiseus, Greater racquet-tailed drongo
Dicrurus remifer, Lesser racquet-tailed drongo
Dicrurus sumatranus, Sumatran drongo
(BERSAMBUNG)

Selasa, Maret 03, 2009

BURUNG INDONESIA (4)

BURUNG termasuk satwa yang memiliki banyak kelebihan dibanding dengan beberapa kelompok satwa lainnya, yaitu karena kemampuannya untuk terbang. Walaupun ada beberapa species burung yang tidak dapat terbang, seperti kasuari, kiwi, penguin, dan lainnya, tetapi sebagian besar dari mereka dapat melakukan perpindahan tempat, baik untuk kepentingan mencari pakan, berkembangbiak maupun untuk menghindari ancaman. Beberapa species burung malah mampu terbang ribuan mil, antarbenua, mengikuti perubahan musim tertentu, dengan hanya kehilangan beberapa gram berat badan setelah penerbangan berjam-jam.
Kelebihan burung antara lain karena organ penutup badannya berupa bulu (feathers), dan hanya burung yang memiliki bulu. Satwa lain, seperti kucing, domba, atau musang, tidak memiliki bulu, tapi dikenal sebagai rumbut (hairs). Bulu burung memiliki keistimewaan dibanding rambut, yaitu selain kemampuannya untuk menahan perubahan iklim secara lebih efisien, juga karena memudahkannya untuk terbang. Dalam kelompok mamalia, hanya kelelawar atau kalong yang benar-benar dapat terbang, dan species lainnya seperti kubung, tupai, posum, hanya dapat melayang.
Sebagian dari burung-burung yang ditemukan di Indonesia merupakan burung migran, terutama dari kelompok burung air, yang didominasi oleh burung-burung perancah (wader). Kehadiran mereka disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu sebagai bagian dari migrasi musiman karena perubahan iklim di tempat asalnya menjadi sangat dingin, untuk berkembangbiak pada musim panas, untuk mencari pakan dalam wilayah yang lebih luas, atau karena kerusakan habitat yang ekstrem.
Burung-burung memiliki wilayah sebaran yang bersifat permanen, dan karena itu ada yang dapat ditemukan di berbagai tempat (pandemic) dan ada yang ditemukan hanya hidup secara lokal (endemic). Indonesia termasuk negara yang memiliki species burung endemik yang banyak, antara lain disebabkan oleh faktor geografis, yang terdiri dari banyak pulau. Walaupun beberapa species burung dapat mengabaikan rintangan fisik (barrier), seperti selat dan perairan lepas yang mengantarai pulau-pulau, namun lebih banyak lagi yang tidak dapat melakukan perpindahan, terutama karena ketergantungannya pada karakteristik habitat.
Beberapa species burung melakukan pemeliharaan terhadap anak-anaknya, dan anak-anak itu menjadi pengikut di induknya (precocial) untuk beberapa lama; induk membantu mencari makanan dan melindungi anak-anaknya dari ancaman pemangsa. Tapi ada juga species tertentu yang anak-anaknya langsung mandiri, malahan si anak tidak mengenal induknya, seperti burung maleo. Anak maleo yang baru keluar dari timbunan sarang pasir vulkanik, sudah memiliki bulu lengkap dan organ-organ lainnya sudah lebih permanen, dan langsung menuju hutan untuk hidup secara mandiri.
Ada kelompok burung yang dalam kehidupannya sangat mengandalkan fungsi kaki (gallinaceous), untuk mencari makanan dan mempertahankan diri, atau melakukan aktivtas lain seperti membangun sarang. Burung-burung dari kelompok megapode, misalnya maleo dan gosong, mengandalkan kaki untuk menggali lubang sarang di tanah, sampai kedalaman 150 cm; atau burung kasuari yang mengandalkan kaki untuk berlari, dengan kecepatan 60 km per jam, ketika menghindar dari ancaman.
Selanjutnya diuraikan species-species burung di Indonesia berdasarkan ordo dan familinya, sebagai berikut:

Dari ordo Psittaciformes, diwakili oleh hanya satu famili, yaitu Psittacidae (ada yang menempatkan kakatua pada famili tersendiri, Cacatuidae*1), dengan species masing-masing:

Famili PSITTACIDAE – nuri, dorra, betet, dakkoro, kakatua, picing

Alisterus amboinensis, Moluccan king-parrot
Alisterus chloropterus, Papuan king-parrot
Aprosmictus erythropus, Red-winged parrot
Aprosmictus jonquillaceus, Olive-shouldered parrot
Cacatua sanginea, Little corella*1
Cacatua alba, White cockatoo*1
Cacatua galerita, Sulphur-crested cockatoo*1
Cacatua goffiniana, Tanimbar corella*1
Cacatua moluccensis, Salmon-crested cockatoo*1
Cacatua sulphurea, Yellow-crested cockatoo*1
Chalcopsitta atra, Black lory
Chalcopsitta duivenbodei, Brown lory
Chalcopsitta stintillata, Yellow-streaked lory
Charmosyna flacentis, Red-flanked lorikeet
Charmosyna josefinae, Josephine’s lorikeet
Charmosyna multistriata, Striate lorikeet
Charmosyna papou, Papuan lorikeet
Charmosyna pulchella, Fairy lorikeet
Charmosyna rubronotata, Red-fronted lorikeet
Charmosyna toxopei, Blue-fronted lorikeet
Charmosyna wilhelminae, Pygmy lorikeet
Cyclopsitta diophthalma, Double-eyed fig-parrot
Cyclopsitta gulielmitertii, Orange-breasted fig-parrot
Eclectus roratus, Eclectus parrot
Eos bornea, Red lory
Eos cyanogenia, Black-winged lory
Eos histrio, Red-and-blue lory
Eos reticulata, Blue-streaked lory
Eos semilarvata, Blue-eared lory
Eos squamata, Violet-necked lory
Geoffroyus geoffroyi, Red-cheeked parrot
Geoffroyus simplex, Blue-collared parrot
Loriculus amabilis, Moluccan hanging-parrot
Loriculus aurantiifrons, Papuan hanging-parrot
Loriculus catamene, Sangihe hanging-parrot
Loriculus exilis, Pygmy hanging-parrot
Loriculus flosculus, Wallace’s hanging-parrot
Loriculus galgulus, Blue-crowned hanging-parrot
Loriculus pusillus, Yellow-throated hanging-parrot
Loriculus sclateri, Sula hanging-parrot
Loriculus stigmatus, Sulawesi hanging-parrot
Lorius domicella, Pusple-naped lory
Lorius garrulus, Chattering lory
Lorius lory, Black-capped lory
Micropsitta bruijnii, Red-breasted pygmy-parrot
Micropsitta geelvinkiana, Geelvink’s pygmy-parrot
Micropsitta keiensis, Yellow-capped pygmy-parrot
Micropsitta pusio, Buff-faced pygmy-parrot
Neopsittacus musschenbroekii, Yellow-billed lorikeet
Neopsittacus pullicauda, Orange-billed lorikeet
Oreopsittacus arfaki, Plum-faced lorikeet
Prioniturus flavicans, Yellowish-breasted racquet-tail
Prioniturus mada, Buru racquet-tail
Prioniturus platurus, Golden-mantled racquet-tail
Probosciger aterrimus, Palm cockatoo*1
Pseudeos fuscata, Dusky lory
Psittacella brehmii, Brehm’s tiger-parrot
Psittacella madaraszi, Madarasz’s tiger-parrot
Psittacella modesta, Modest tiger-parrot
Psittacella picta, Painted tiger-parrot
Psittacula alexandri, Red-breasted parakeet
Psittacula longicauda, Long-tailed parakeet
Psittaculirostris desmarestii, Large fig-parrot
Psittaculirostris edwadsii, Edward’s fig-parrot
Psittaculirostris salvadorii, Salvadori’s fig-parrot
Psitteuteles goldiei, Goldie’s lorikeet
Psitteuteles iris, Iris lorikeet
Psittinus cyanurus, Blue-rumped parrot
Psittrichas fulgidus, Pesquet’s parrot
Tanygnathus gramineus, Black-lored parrot
Tanygnathus lucionensis, Blue-naped parrot
Tanygnathus megalorhynchos, Great-billed parrot
Tanygnathus sumatranus, Azure-rumped parrot
Trichoglossus euteles, Olive-headed lorikeet
Trichoglossus flavoviridis, Yellow-and-green lorikeet
Trichoglossus haematodus, Rainbow lorikeet
Trichoglossus ornatus, Ornate lorikeet

Dari ordo Strigiformes, diwakili oleh famili-famili Tytonidae dan Strigidae, dengan species masing-masing:

Famili TYTONIDAE – serak, wowo

Phodilus badius, Oriental bay-owl
Tyto alba, Barn owl
Tyto inexspectata, Minahassa owl
Tyto longimembris, Australasian grass-owl
Tyto nigrobrunnea, Taliabu owl
Tyto novaeholandiae, Australian masked-owl
Tyto rosenbergii, Sulawesi owl
Tyto sororcula, Lesser masked-owl
Tyto tenebricosa, Greater Sooty-owl

Famili STRIGIDAE – burung hantu, celepuk, ketupa, seloputo, beluk
Bubo sumatranus, Barred eagle-owl
Glaucidium brodiei, Collared owlet
Glaucidium castanopterum, Javan owlet
Ketupa ketupu, Buffy fish-owl
Ninox boobook, Southern boobook
Ninox burhani, Togian hawk-owl
Ninox connivens, Barking owl
Ninox ios, Cinnabar hawk-owl
Ninox japonica, Northern boobook
Ninox natalis, Christmas Island hawk-owl
Ninox novaeseelandiae, Morepork
Ninox ochracea, Ochre-bellied hawk-owl
Ninox punctulata, Speckled hawk-owl
Ninox randi, Chocolate boobook
Ninox rudolfi, Sumba boobook
Ninox rufa, Rufous owl
Ninox scutulata, Brown hawk-owl
Ninox squamipila, Moluccan hawk-owl
Ninox sumbaensis, Sumba hawk-owl
Ninox theomacha, Jungle hawk-owl
Otus alfredi, Flores scoops-owl
Otus alius, Nicobar scoops-owl
Otus angelinae, Javan scoops-owl
Otus beccarii, Biak scoops-owl
Otus brookii, Rajah scoops-owl
Otus collari, Sangihe scoops-owl
Otus enganensis, Enggano scoops-owl
Otus lempiji, Sunda scoops-owl
Otus magicus, Moluccan scoops-owl
Otus manadensis, Sulawesi scoops-owl
Otus mentawi, Mentawai scoops-owl
Otus rufescens, Reddish scoops-owl
Otus sagittatus, White-fronted scoops-owl
Otus silvicola, Wallace’s scoops-owl
Otus spilocephalus, Mountain scoops-owl
Otus sunia, Oriental scoops-owl
Otus umbra, Simeulue scoops-owl
Strix leptogrammica, Brown wood-owl
Strix seloputo, Spotted wood-owl
Uroglaux dimorpha, Papuan hawk-owl

Dari ordo Troogoniformes, diwakili hanya satu famili, yaitu Trogonidae, dengan species:

Famili TROGONIDAE - kasumba

Harpactes reindwardtii, Javan trogon
Harpactes kasumba, Red-naped trogon
Harpactes diardii, Diard’s trogon
Harpactes whiteheadi, Whitehead’s trogon
Harpactes orrhophaeus, Cinnamon-rumped trogon
Harpactes duvaucelli, Scarlet-rumped trogon
Harpactes erythrocephalus, Red-headed trogon
Harpactes oreskios, Orange-breasted trogon
Harpactes mackloti, Sumatran trogon
(BERSAMBUNG)

Senin, Maret 02, 2009

BURUNG INDONESIA (3)

KELIMPAHAN kekayaan hayati Indonesia, khususnya dalam bentuk satwa burung, memang menarik perhatian berbagai kalangan dunia, apalagi dipicu dengan kenyataan bahwa dalam dekade terakhir masih ditemukan beberapa burung jenis baru, yang sebelumnya tidak pernah dipertelakan secara ilmiah. Beberapa wilayah seperti Sulawesi, Maluku, dan terutama Papua, masih menyimpan berbagai potensi sumberdaya alam hayati, yang sebagian sebenarnya masih merupakan misteri. Kondisi alam di Papua, jika sebagian besar masih tetap dapat dipertahankan dalam bentuk kawasan-kawasan suaka yang komprehensif, nisacaya masih akan menghadirkan tawaran-tawaran baru terkait dengan biotaksonomi. Burung-burung dari famili cenderawasih (Paradiseidae), pergam dan punai (Columbidae), betet atau nuri (Psittacidae), sebenarnya belum tuntas tersentuh oleh pendekatan ilmiah, baik speciesnya maupun ekologi dan perilakunya. Kemungkinan untuk menemukan species-species baru burung di Indonesia belum final. Tinggal bagaimana kita menjaga dan mempertahankan keseimbangan sistem ekologi di sebuah wilayah atau kawasan.
Banyak species burung di Indonesia saat ini dalam keadaan terancam, dan secara klasik disebabkan oleh karena pemahaman kita terhadap peran ekologis burung belum memadai. Burung-burung dari famili gelatik, dongi, pipit (Ploceidae), sebagian masih dianggap sebagai hama potensial, karena sifatnya yang pemakan biji-bijian (padi, jewawut, dan berbagai tanaman pertanian). Namun demikian, sesungguhnya species ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, baik sebagai peliharaan untuk kesenangan maupun untuk konsumsi. Dalam beberapa kasus praktis, burung-burung ini relatif mudah dipelihara dan dikembangbiakkan, sehingga dapat dijadikan sumber produksi.
Beberapa burung air juga memiliki kelimpahan yang cukup besar, seperti misalnya belibis (Dendrocygna sp.), lawase (Porphyrio porphyrio), puyuh (Turnix suscitator), bicculang (Gallinulla chloropus), dan lainnya, apabila dilihat dari sisi etnozoologis, pada zaman dahulu telah dimanfaatkan sebagai sumber makanan oleh beberapa kelompok masyarakat tradisional dengan sistem budidaya tingkat pekarangan. Ayam hutan (Gallus gallus dan Gallus varius), telah sejak lama menjadi indukan budidaya oleh kelompok masyarakat yang berdiam di tepi-tepi hutan. Di beberapa negara seperti China, Taiwan, burung-burung pecuk dari famili Phalacrocoracidae, dijadikan teman dalam menangkap ikan di sungai-sungai, karena kemampuannya menyelam untuk menangkap ikan, dan lehernya disekat dengan tali agar ikannya tidak tertelan.
Selanjutnya diuraikan species-species burung di Indonesia berdasarkan ordo dan familinya masing-masing:

Dari ordo Falconiformes, diwakili oleh famili-famili Accipitridae, Pandionidae, dan Falconidae, dengan species masing-masing:

Famili ACCIPITRIDAE – elang, bido, sikko, cengnge, garuda
Accipiter badius, Shikra
Accipiter cirrocephalus, Collared sparrowhawk
Accipiter erythrauchen, Rufous-necked sparrowhawk
Accipiter fasciatus, Brown goshawk
Accipiter griseiceps, Sulawesi goshawk
Accipiter gularis, Japanese goshawk
Accipiter henocogrammus, Moluccan goshawk
Accipiter hiogaster, Variable goshawk
Accipiter melanochlamys, Black-mantled goshwak
Accipiter meyerianus, Meyer’s goshawk
Accipiter nanus, Small sparrowhawk
Accipiter poliocephalus, Grey-headed goshawk
Accipiter rhodogaster, Vinous-breasted sparrowhawk
Accipiter soloensis, Chinese goshawk
Accipiter trinotatus, Spot-tailed goshawk
Accipiter trivirgatus, Crested goshawk
Accipiter virgatus, Besra
Aquila audax, Wedge-tailed eagle
Aquila clanga, Greater spotted eagle
Aquila fasciatus, Bonelli’s eagle
Aquila gurneyi, Gurney’s eagle
Aquila kienerii, Rufous-bellied eagle
Aquila morphnoides, Little eagle
Aquila pennatus, Booted eagle
Aviceda jerdoni, Jerdon’s baza
Aviceda leuphotes, Black baza
Aviceda subcristata, Pacific baza
Butastur indicus, Grey-faced buzzard
Butastur liventer, Rufous-winged buzzard
Buteo buteo, Eurasian buzzard
Circaetus gallicus, Short-toed eagle
Circus aeruginosus, Western marsh-harrier
Circus approximans, Swamp harrier
Circus assimilis, Spotted harrier
Circus melanoleucos, Pied harrier
Circus spilonotus, Eastern marsh-harrier
Elanus caeruleus, Black-shouldered kite
Erythrotriorchis buergersi, Chestnut-shouldered goshawk
Haliaeetus leucogaster, White-bellied sea-eagle
Haliastur indus, Brahminy kite
Haliastur sphenurus, Whistling kite
Harpyopsis novaeguineae, New Guinea eagle
Henicopernis longicauda, Long-tailed honey-buzzard
Ichthyophaga humilis, Lesser fish-eagle
Ichthyophaga ichthyaetus, Grey-headed fish-eagle
Ictinaetus malayensis, Black eagle
Macheiramphus alcinus, Bat hawk
Megatriorchis doriae, Doria’s goshawk
Milvus migrans, Black kite
Pernis celebensis, Barred honey-buzzard
Pernis ptilorhynchus, Oriental honey-buzzard
Spilornis cheela, Crested serpent-eagle
Spilornis kinabaluensis, Mountain serpent-eagle
Spilornis rufipectus, Sulawesi serpent-eagle
Spizaetus alboniger, Blyth’s hawk-eagle
Spizaetus bartelsi, Javan hawk-eagle
Spizaetus floris, Flores hawk-eagle
Spizaetus lanceolatus, Sulawesi hawk-eagle
Spizaetus nanus, Wallace’s hawk-eagle
Famili PANDIONIDAE – elang laut
Pandion haliaetus, Osprey
Famili FALCONIDAE – alap-alap, terru’
Falco berigora, Brown falcon
Falco cenchroides, Australian kestrel
Falco longipennis, Australian hobby
Falco moluccensis, Spotted kestrel
Falco peregrinus, Peregrine falcon
Falco severus, Oriental hobby
Falco subbuteo, Eurasian hobby
Falco tinnunculus, Eurasian kestrel
Microhierax fringillarius, Black-thighed falconet
Microhierax latifrons, White-fronted falconet

Dari ordo Galliformes, diwakili oleh famili-famili Megapodiidae, Phasianidae, dan Turnicidae, dengan species masing-masing:

Famili MEGAPODIIDAE – maleo, gosong

Aepypodius arfakianus, Wattled brush-turkey
Aepypodius bruijnii, Bruijn’s brush-turkey
Macrocephalon maleo, Maleo
Megapodius affinis, New Guinea scrubfowl
Megapodius bersteinii, Sula scrubfowl
Megapodius cumingii, Tabon scrubfowl
Megapodius forsteni, Forsten’s scrubfowl
Megapodius freycinet, Dusky scrubfowl
Megapodius geelvinkianus, Biak megapode
Megapodius reindwartii, Orange-footed scrubfowl
Megapodius tenimberensis, Tanimbar scrubfowl
Megapodius wallacei, Moluccan scrubfowl
Talegalla cuvieri, Red-billed brush-turkey
Talegalla fuscirostris, Black-billed brush-turkey
Talegalla jobiensis, Brown-collared brush-turkey
Famili PHASIANIDAE – ayam, merak, puro, kuwau
Anurophasis monorthonyx, Snow mountain quail
Arborophila charltonii, Chestnut-necklaced partridge
Arborophila hyperythra, Red-breasted partridge
Arborophila javanica, Chestnut-bellied partridge
Arborophila orientalis, Grey-breasted partridge
Arborophila rubrirostris, Red-billed partridge
Argusianus argus, Great argus
Caloperdix oculea, Ferruginous partridge
Coturnix chinensis, Blue-breasted quail
Coturnix ypsilophora, Brown quail
Gallus gallus, Red junglefowl
Gallus varius, Green juglefowl
Haematortyx sanguiniceps, Crimson-headed partridge
Lophura bulweri, Bulwer’s pheasant
Lophura erythrophthalma, Crestless fireback
Lophura hoogewerfi, Sumatran pheasant
Lophura ignita, Crested fireback
Lophura inornata, Salvadori’s pheasant
Melanoperdix nigra, Black partridge
Pavo muticus, Green peafowl
Polyplectron chalcurum, Bronze-tailed peacock-pheasant
Polyplectron malacense, Malayan peacock-pheasant
Polyplectron schleiermacheri, Bornean peacock-pheasant
Rhizothera longirostris, Long-billed partridge
Famili TURNICIDAE – puyuh
Turnix everetti, Sumba buttonquail
Turnix maculosa, Red-backed buttonquail
Turnix suscitator, Barred buttonquail
Turnix sylvatica, Small buttonquail

Dari ordo Gruiformes, diwakili famili-famili Gruidae, Rallidae, Heliornithidae, dan Otididae, dengan species masing-masing:

Famili GRUIDAE – bangau

Grus rubicunda, Brolga
Famili RALLIDAE – mandar, teo-teo, bicculang, kattiba, kareo, tikusan
Amaurornis isabellinus, Isabelline’s bush-hen
Amaurornis magnirostris, Talaud bush-hen
Amaurornis moluccanus, Rufous-tailed bush-hen
Amaurornis olivaceus, Plain bush-hen
Amaurornis phoenicurus, White-breasted waterhen
Aramidopsis platen, Platen’s rail
Eulabeornis castaneoventris, Chestnut rail
Fulica atra, Eurasian coot
Gallicrex cinerea, Watercock
Gallinulla chloropus, Common moorhen
Gallinulla tenebrosa, Dusky moorhen
Gallirallus philippensis, Buff-banded rail
Gallirallus striatus, Slaty-breasted rail
Gallirallus torquatus, Barred rail
Gymnocrex plumbeiventris, Bare-eyed rail
Gymnocrex rosenbergii, Bare-faced rail
Gymnocrex talaudensis, Talaud rail
Habroptila wallacii, Invisible rail
Megacrex inepta, New Guinea flightless rail
Porphyrio porphyrio, Purple swamphen
Porzana cinerea, White-browed crake
Porzana fusca, Ruddy-breasted crake
Porzana paykullii, Band-bellied crake
Porzana pusilla, Baillon’s crake
Porzana tabuensis, Spotless crake
Rallina eurizonoides, Slaty-legged crake
Rallina fasciata, Red-legged crake
Rallina forbesi, Forbes’s rail
Rallina leucospila, White-striped forest rail
Rallina mayri, Mayr’s rail
Rallina rubra, Chestnut forest-rail
Rallina tricolor, Red-necked crake
Famili HELIORNITHIDAE –
Heliopais personata, Masked finfoot
Famili OTIDIDAE –
Ardeotis australis, Australian bustard

Dari ordo Pelecaniformes, diwakili famili-famili Pelecanidae, Sulidae, Phalacrocoracidae, Anhingidae dan Fregatidae, dengan species masing-masing:

Famili PHAETHONTIDAE –

Phaethon lepturus, White-tailed tropicbird
Phaethon rubricauda, Red-tailed tropicbird
Famili PELECANIDAE – pelikan
Pelecanus cospicillatus, Australian pelican
Pelecanus onocrotalus, Great white pelican
Pelecanus philippensis, Spot-billed pelican
Famili SULIDAE – gangsa batu
Papasula (Sula) abbotti, Abbot’s booby
Sula dactylatra, Masked booby
Sula leucogaster, Brown booby
Sula sula, Red-footed booby
Famili PHALACROCORACIDAE – pecuk, sellang
Phalacrocorax carbo, Great cormorant
Phalacrocorax melanoleucos, Little pied cormorant
Phalacrocorax niger, Little cormorant
Phalacrocorax sulcirostris, Little black cormorant
Famili ANHINGIDAE – pecuk ular
Anhinga melanogaster, Oriental darter
Famili FREGATIDAE – bintayung
Fregata andrewsi, Christmast Island Frigatebird
Fregata ariel, Lesser frigatebird
Fregata minor, Great frigatebird

Dari ordo Podicipediformes, hanya diwakili famili Podicipedidae, dengan species:

Famili PODICIPEDIDAE –

Podiceps cristatus, Great crested grebe
Tachybabtus novaehollandiae, Australasian grebe
Tachybabtus ruficollis, Little grebe

Dari ordo Procellariiformes, diwakili oleh famili-famili Procellariidae dan Hydrobatidae, dengan species masing-masing:

Famili PROCELLARIIDAE –

Bulweria bulwerii, Bulwer’s petrel
Bulweria fallax, Jouanin’s petrel
Calonectris leucomelas, Streaked shearwater
Daption capense, Cape petrel
Pachyptila belcheri, Slender-billed prion
Pachyptila desolata, Antarctic prion
Pterodroma baraui, Barau’s petrel
Pterodroma rostrata, Tahiti petrel
Pterodroma sandvicensis, Hawaiian petrel
Puffinus carneipes, Flesh-footed shearwater
Puffinus pacificus, Wedge-tailed shearwater
Famili HYDROBATIDAE –
Oceanites oceanicus, Wilson’s storm-petrel
Oceanodroma matsudairae, Matsudaira’s storm-petrel
Oceanodroma monorhis, Swinhoe’s storm-petrel
Pelagodroma marina, White-faced storm-petrel
(BERSAMBUNG)