Tampilkan postingan dengan label KONSERVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KONSERVASI. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 09, 2009

BURUNG DI PEKARANGAN

PERNAHKAH kita mengamati secara seksama kekayaan satwa dan tumbuhan yang ada di halaman rumah? Sepintas memang tidak tampak apapun, apalagi pada pekarangan-pekarangan rumah yang memiliki areal sempit, ditambah dengan banyaknya sarana berbentuk cor beton. Kekayaan satwa di pekarangan ditentukan oleh seberapa banyak produsen yang ada, dalam hal ini tanaman, yaitu tanaman yang bukan hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga harus memiliki daya dukung ekologis.
Beberapa jenis tumbuhan memang memiliki nilai ekonomis tinggi, misalnya karena buahnya; atau memiliki nilai estetika, misalnya karena keindahan bunganya. Namun demikian, nilai ekologisnya sangat rendah, misalnya karena tidak mampu mendukung kehidupan satu atau beberapa jenis satwa. Selain satwa, tumbuhan yang daya dukung ekologisnya baik, juga dapat mendukung kehidupan tumbuhan lain.


Bagi halaman rumah yang cukup luas (suatu hal yang jarang di kota-kota besar), apabila ditata dengan baik dan dipertimbangkan untuk kepentingan konservasi, akan dengan sendirinya membentuk sistem ekologis dengan karakteristik setempat. Jika suatu sistem ekologis yang bersifat standar telah terbentuk, secara otomatis di dalamnya ada terlibat kehidupan satwa sebagai konsumen. Untuk hal ini diperlukan pengetahuan dan keterampilan dasar, terutama dengan memahami keterkaitan antar-setiap jenis, satwa atau tumbuhan, dan sesamanya.


Sebatang pohon yang memiliki nilai ekologis, harus diperhitungkan pada kemampuannya untuk menjadi produsen bagi beberapa jenis satwa. Sebagai misal, sebatang pohon harus diperhitungkan bahwa bunganya akan menjadi sumber nektar bagi lebah, atau bagi burung isapmadu. Pada tahap lanjut, selain burung isapmadu, maka akan hadir pula burung pemakan lebah, dan seterusnya. Pohon yang baik bukan hanya akan menyediakan sumber makanan, tetapi juga harus dapat menjadi tempat beristirahat bagi burung, atau tempat bersarang. Selain burung dan lebah, beberapa jenis serangga akan hadir karena adanya bunga, seperti kupu-kupu dan lainnya.


Selain bunga, buahnya juga harus dapat menjadi sumber pakan bagi satwa tertentu, misalnya burung pemakan buah, tupai, tikus pohon, atau kalong. Beberapa jenis tumbuhan, pucuk dan daunnya sangat disukai oleh beberapa serangga penggerek, dan kulit batangnya ditempati berbagai jenis serangga tertentu. Beberapa tumbuhan penutup tanah untuk taman rumah, sangat disenangi jengkerik, kumbang tanah dan ngengat malam. Tumbuhan dari keluarga rumput (Poaceae), bijinya sangat digemari oleh banyak jenis burung, terutama dari jenis-jenis bondol (Lonchura sp.).


Dengan ketepatan di dalam memilih tanaman, misalnya pohon, maka juga harus diperhitungkan seberapa besar keteduhann atau kelembapan yang dapat dihadirkan. Ini penting, karena beberapa jenis tumbuhan pelekat (epifit) membutuhkan kondisi yang demikian untuk dapat hidup. Jadi sebuah pohon yang layak, dapat menjadi pendukung tumbuhan lain, misalnya lumut, pakis, anggrek atau lainnya, yang melekat di batang dan dahannya.


Burung menyukai tempat-tempat yang aman, dalam arti tidak bising, dan terdapat kerimbunan yang memadai. Beberapa jenis burung, dapat bersarang hanya 150 cm dari permukaan tanah, sepanjang memang secara naluriah burung tersebut merasa aman, baik dari gangguan pemilik rumah maupun hewan pemangsa.
Kehadiran satu atau beberapa jenis burung di pekarangan, tidaklah berlangsung sepanjang tahun, tetapi mengikuti musim tertentu, bergantung pada lokasi setempat. Selain itu, jenis-jenis yang biasa hadir di pekarangan rumah juga akan berganti-ganti, bergantung pada musim, ketersediaan atau kelimpahan pakan yang ada. Pada musim tanaman berbunga, dan pada saat musim berbuah, jenis-jenis burung yang dominan hadir akan berbeda. Namun demikian, ada beberapa jenis burung yang dapat dikatakan dapat hadir di pekarangan sepanjang tahun, misalnya burung gereja (Passer sp.).


Konservasi burung di pekarangan pada tingkat lanjut, adalah melalui penyediaan preparat pendukung aktivitas keseharian burung, walaupun tahap seperti ini hampir dapat dikatakan belum ada yang melakukannya di Indonesia. Sebagai misal, pembuatan kotak sarang dari papan atau material lain, yang kemudian dipasang di tempat yang diperkirakan akan disenangi burung tertentu. Bisa juga penyediaan tempat makan, terutama burung-burung pemakan biji-bijian dan pemakan segala.


Keindahan bagi sebuah pekarangan rumah memang penting, tetapi sebaiknya penataannya juga mempertimbangkan aspek-aspek konservasi, walaupun memang hanya dalam skala kecil. Tetapi meskipun hanya konservasi skala kecil, tetaplah akan sangat berarti besar bagi satwa tertentu. Terutama apabila dapat dilakukan oleh para pemilik pekarangan di kota-kota besar, di mana sebagian besar satwa telah sukar mendapatkan tempat hidup, makanan dan tempat berkembangbiak.(ais)

Senin, Februari 23, 2009

ALAM & KONSERVASI

INDONESIA adalah sebuah negara yang dianugerahi kekayaan hayati yang sebenarnya sangat luar biasa, bahkan termasuk sebagai megacentre keragaman hayati di dunia, dari tiga negara yang boleh kita sebut, yaitu Brasil di benua Amerika, Zaire dan sekitarnya di benua Afrika, dan Indonesia sendiri di lempeng benua Asia. Kekayaan hayati, dengan tingkat keragaman yang sangat tinggi ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sesuatu yang secara biogeografi memang muncul akibat letak Indonesia pada bentang benua yang sekaligus menggambarkan tiga wilayah raksasa dengan keragaman genetika, yaitu di barat dengan Kawasan Indomalaya yang dipengaruhi oleh Asia, di timur dengan Kawasan Australopapua, dan di tengah, yang dipisahkan oleh garis Wallacea dan garis Weber, Sulawesi dan jajarannya menjadi terpisah dengan karakteristik keterwakilan Asia, Australia, dan Afrika.


Sumberdaya hayati merupakan subtan penting dalam kelangsungan hidup manusia, bahkan kelangsungan hidup sebuah bangsa. Karena itu, sumberdaya hayati, yang terdiri atas kekayaan flora dan fauna, merupakan subtan penyangga utama bagi eksisnya sebuah peradaban. Trend saat ini menunjukkan bahwa di masa depan, sejalan dengan perkembangan teknologi, kita akan terjebak apabila beranggapan bahwa yang akan terjadi adalah persaingan antarbangsa dengan mengandalkan kekuatan politik dan militer. Perang di masa depan, bukanlah perang nuklir, dengan misil-misil yang merentas angkasa, melainkan yang akan terjadi adalah perang sumberdaya alam, khususnya sumberdaya genetika.


Sejarah berabad-abad mencatat bahwa kehancuran sebuah bangsa, tidak semata-mata karena faktor politik dan militerisme, melainkan juga terutama disebabkan oleh kehancuran lingkungan, yang di dalamnya mencakup kepunahan berbagai sumberdaya genetika. Proses desertifikasi, yang apabila dikaji secara cermat terutama disebabkan oleh pertimbangan ekonomi, sudah sejak lama menjadi ancaman; demikian pula kehancuran ekosistem pesisir dan laut. Sistem politik egosentris, merupakan pemicu bagi timbulnya kehancuran lingkungan, belum lagi akibat tekanan kemiskinan jutaan rakyat yang harus makan, industrialisasi yang tidak diimbangi dengan ecopolicy yang cermat, serta pengaruh konsumerisme yang meledak-ledak. Pada tahun 2020, diperkirakan kehancuran lingkungan akan mencapai lebih setengah dari kondisi lingkungan yang masih baik sekarang ini, dan jumlah bencana akan semakin meningkat, mulai dari global warming sampai pada hilangnya cadangan sumberdaya untuk pakan dan sandang. Masa depan, dan generasi berikutnya, dipertaruhkan.


Bagi bangsa Indonesia, lingkungan telah menjadi komitmen utama dalam pertimbangan pembangunan, yang ditandai dengan cukup konsistennya pengambil kebijakan untuk menempatkan masalah lingkungan di dalam dokumen-dokumen perencanaan pembangunan. Masalahnya, kita masih seringkali terjebak ke dalam perlambang dan simbolisasi, implementasi secara seremonial masih sangat dominan dibandingkan praktik-praktik yang bersifat melembaga dan memiliki kontinuitas, yang permanen. Kita selalu terlambat, dan sadar setelah bencana di depan hidung.
Kekayaan hayati Indonesia saat ini mengalami ancaman yang serius, dan harus diakui memang belum diimbangi dengan upaya penyelamatan yang sebanding. Upaya-upaya konservasi selalu tenggelam oleh sangat kuatnya upaya-upaya eksploatasi, yang dinilai lebih menguntungkan. Dengan alasan untuk kepentingan umum, demi kepentingan masyarakat, demi kepetingan orang banyak, maka sebuah ekosistem dan tatanan kehidupan plasmanutfah dapat dihancurkan seketika. Ekonomi, yang hanya bertaut sedikit dengan ekologi, adalah alasan utama untuk mengeksploatasi sumberdaya dan lingkungan alam. Lingkungan, ternyata dalam praktik masih kita tempatkan tersendiri, sebagai elemen yang terpisah dari proses kebijakan lainnya.


Laporan bahwa di beberapa lokasi di Sumatera, kawanan gajah menyerbu perkampungan dan menghacurkan tanaman pertanian, atau harimau memasuki kampung dan menerkam penduduk, merupakan berita klise, yang tidak menarik. Kenyataan menunjukkan, bahwa bukan gajah atau harimau itu yang melakukan intervensi, melainkan kebijakan penempatan penduduk atau lokasi hunian memang sengaja ditempatkan di habitat gajah atau harimau. Jadi manusialah yang mengintervensi ekosistem tertentu, dan dalam prosesnya, apabila terjadi konflik, manusia harus dimenangkan. Jika tidak, kita dianggap tidak manusiawi.


Jumlah jenis sumberdaya genetika tumbuhan di Indonesia, seperti sering dilansir, adalah sekitar 30.000 species, dan satwa sekitar 4.000 species, adalah jumlah yang tidak dapat dipercaya. Jika kita berjalan-jalan di lapangan, hutan alam, daerah pertanian, kampung, tepi pantai, dan kita mau menghitung, maka jumlah tersebut terbukti sangat kecil dengan kenyataan yang ditemukan. Itupun jika kita berbicara soal species, belum berbicara soal keanekaragaman intraspecies (forma, kultivar, varietas). Jadi memang aneh rasanya jika sebuah kawasan konservasi ditetapkan untuk memperlindungi satu atau dua species, misalnya Ujungkulon untuk badak dan penyu, sementara itu, ada ribuan atau puluhan ribu species tumbuhan, jamur, hewan (serangga terutama) yang menghuni kawasan tersebut, yang kesemuanya punya peran dalam beroperasinya sebuah mesin raksasa yang disebut ekosistem.


Benarkah konservasi adalah untuk manusia? Bukankah konservasi adalah untuk konservasi? Jika pandangan kita menempatkan konservasi alam dan plasmanutfah adalah untuk kepentingan manusia, maka dapat dipastikan, kita akan berhadapan dengan kegagalan total. Dengan paradigma alam demi kepentingan manusia, manusia akan selalu pada pihak yang memenangkan konflik, dan alam lingkungan akan selalu dalam posisi korban. Kelihatan sangat konservatif memang, jika kita memilih paradigma konservasi adalah untuk konservasi, walaupun manusia pasti juga akan terkena bias keuntungan dari kebijakan konservasi tersebut. Filosofi yang sering terlupakan adalah persoalan “hak hidup” – bahwa mahluk lain, tumbuhan dan satwa, diperlindungi karena bukan hanya penting bagi manusia, melainkan karena memang memiliki hak-hidup sama dengan manusia, di planet yang sama, yang bernama bumi. Dalam sejarah pembentukan sistem ekologi semesta, menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk terakhir yang menjadi penghuni planet ini, sementara mahluk bersel satu, tumbuhan dan hewan, jauh lebih dulu hadir. Selama proses kehidupan berjalan di bumi, fakta menunjukkan bahwa tumbuhan dan satwa dapat melangsungkan kehidupannya secara baik sekalipun tidak ada mahluk yang bernama manusia. Sebaliknya, manusia dengan usia kehadiran di bumi yang relatif singkat, sekitar 15.000 tahun yang lalu, tidak pernah dapat mempertahankan kelanjutan hidupnya tanpa ketergantungan pada tumbuhan dan satwa. Jadi, pewaris sah planet bumi ini, sesungguhnya bukanlah manusia, melainkan mahluk lainnya.


Jacques Monod, mungkin benar, bahwa segala sesuatu berproses dan lahir hanya karena prinsip “serba kebetulan”. Tidak ada satu pun di bumi ini yang eksis, kecuali hanya karena kebetulan. Tumbuhan, satwa, manusia, cadas dan air, ada di bumi karena kebetulan. Indonesia, kaya dengan sumberdaya genetika, juga mungkin karena hanya kebetulan. Kita melakukan konservasi, juga karena kebetulan, dan kehancuran sebuah ekosistem, satu species, juga pasti hanya karena kebetulan. Sama seperti kehadiran semua mahluk di bumi, juga cuma kebetulan. Tidak ada yang terencana. Jika suatu saat PSSI bermain dan menang melawan Chelsea, pasti cuma kebetulan, karena kebetulan penjaga gawang berdiri di posisi yang salah.(AIS/YAYASAN PRIMABAKTI ALAM HAYATI INDONESIA)